Provinsi Banten berdiri dengan kekayaan sejarah yang luar biasa, mulai dari pusat penyebaran agama hingga menjadi jalur perdagangan internasional yang penting. Namun, di era digital dan globalisasi saat ini, Banten menghadapi tantangan serupa dengan daerah lain: pengikisan nilai-nilai tradisional dan munculnya isu modern seperti polarisasi digital dan krisis identitas. Salah satu cara paling efektif untuk menjawab tantangan ini adalah melalui penguatan Literasi Budaya yang komprehensif di semua lapisan masyarakat, terutama generasi muda.
Literasi budaya bukan sekadar menghafal tari tradisional atau mengetahui silsilah kesultanan. Lebih dari itu, ia adalah kemampuan untuk memahami, mengevaluasi, dan menerapkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari. Banten memiliki modal sosial yang besar berupa Kearifan Lokal yang tertanam dalam filosofi masyarakatnya. Misalnya, nilai keteguhan hati, kemandirian, dan keterbukaan terhadap hal baru tanpa meninggalkan akar budaya. Jika nilai-nilai ini dijadikan landasan dalam menyaring informasi dari luar, maka masyarakat tidak akan mudah terombang-ambing oleh tren yang tidak produktif.
Dalam menghadapi berbagai Isu Modern seperti penyebaran berita bohong (hoaks), radikalisme, hingga masalah lingkungan, kearifan lokal Banten menawarkan solusi yang sangat relevan. Budaya musyawarah yang dilakukan di tingkat desa atau kasepuhan dapat menjadi model komunikasi yang jauh lebih sehat dibandingkan perdebatan di media sosial yang seringkali berujung pada caci maki. Dengan memahami akar budayanya, masyarakat memiliki filter alami untuk membedakan mana yang membawa kemajuan dan mana yang hanya merusak tatanan sosial.
Pendidikan formal dan informal di Banten perlu mengintegrasikan narasi budaya ini ke dalam kurikulum yang lebih segar. Mengajak siswa untuk meneliti kearifan lokal mereka sendiri bisa menjadi cara yang menarik agar mereka merasa bangga menjadi bagian dari identitas daerah. Literasi ini akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kecerdasan kultural. Mereka akan mampu membawa Banten ke panggung dunia tanpa harus kehilangan jati diri sebagai masyarakat yang religius dan berbudaya tinggi.
