Dilema Petani Banten: Lahan Subur yang Tergusur Industri, Bagaimana Nasibnya?

Provinsi Banten selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan strategis yang menyokong kebutuhan ibu kota. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pemandangan hijau persawahan mulai berganti menjadi dinding-dinding beton pabrik yang menjulang tinggi. Petani Banten kini berada di persimpangan jalan yang sangat sulit, di mana mereka harus menghadapi kenyataan pahit bahwa tanah warisan leluhur mereka kini diincar oleh ekspansi industri yang masif. Transformasi wilayah dari agraris menuju industri membawa dampak yang sangat signifikan bagi struktur sosial dan ketahanan pangan lokal di wilayah tersebut.

Persoalan utama yang muncul adalah hilangnya akses terhadap sumber daya alam yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan masyarakat pedesaan. Ketika sebuah Lahan Subur dialihfungsikan menjadi kawasan industri, yang hilang bukan hanya tanaman padinya, tetapi juga ekosistem air dan kearifan lokal yang telah terjaga selama berabad-abad. Banyak petani yang tergiur dengan uang kompensasi dalam jumlah besar di awal, namun tanpa keterampilan yang mumpuni di bidang lain, uang tersebut cepat habis tanpa meninggalkan aset produktif. Akibatnya, mereka yang dulunya adalah pemilik tanah kini berubah menjadi buruh kasar di atas tanah mereka sendiri.

Ekspansi Industri di Banten memang menjanjikan pertumbuhan ekonomi makro dan penyerapan tenaga kerja. Namun, pertanyaan mendasar yang muncul adalah, siapa yang sebenarnya diuntungkan dari kemajuan ini? Para Petani Banten yang telah kehilangan lahan seringkali tidak memenuhi kriteria pendidikan yang diminta oleh pabrik-pabrik besar tersebut. Hal ini menciptakan ketimpangan sosial yang baru, di mana warga lokal hanya menjadi penonton di tengah gemerlapnya investasi asing dan nasional yang masuk ke daerah mereka. Bagaimana nasibnya mereka di masa depan jika perlindungan terhadap hak atas tanah semakin lemah?

Kebijakan tata ruang yang seringkali tidak memihak pada sektor pertanian memperburuk dilema ini. Pembangunan infrastruktur penunjang industri seringkali mengorbankan saluran irigasi primer yang seharusnya mengaliri ribuan hektar sawah. Tanpa air yang cukup, pertanian menjadi tidak lagi menjanjikan, dan petani terpaksa menjual lahannya kepada pengembang. Siklus ini terus berulang hingga menyisakan sedikit sekali lahan hijau yang tersisa. Padahal, menjaga ketersediaan lahan pertanian adalah investasi jangka panjang untuk kedaulatan pangan bangsa yang tidak bisa ditukar dengan nilai uang sesaat.