Bersin adalah refleks kompleks yang bertujuan membersihkan saluran hidung dari iritan. Namun, pernahkah Anda menyadari ada gerakan tak terduga di wajah saat bersin? Fenomena menarik ini melibatkan saraf-saraf wajah dan keterkaitan refleks antar-sistem. Ini menunjukkan betapa rumitnya respons perlindungan alami tubuh kita terhadap debu atau alergen.
Koneksi yang dimaksud adalah antara saraf trigeminal (saraf utama wajah) dan refleks bersin. Saraf trigeminal memiliki cabang yang meluas ke area mata, hidung, dan rahang. Ketika partikel asing memicu sel-sel sensitif di hidung, saraf ini mengirimkan sinyal ke batang otak, memicu respons bersin yang kuat dan tiba-tiba.
Meskipun terlihat terpisah, sinyal dari hidung yang memicu bersin dapat merambat ke cabang lain dari saraf trigeminal. Salah satu cabang tersebut mengendalikan otot-otot di sekitar mata dan alis. Perambatan sinyal ini menyebabkan otot-otot tersebut secara tak sadar berkontraksi, menghasilkan gerakan atau kerutan alis yang sering terlihat.
Gerakan alis, atau mengerutkan dahi, saat bersin bukanlah fungsi utama refleks itu sendiri. Gerakan ini lebih merupakan respons sekunder atau ‘tumpahan’ sinyal saraf. Ini terjadi karena kedekatan anatomis dan persimpangan jalur saraf di pusat otak. Ini adalah contoh sempurna bagaimana jaringan saraf tubuh saling terkait erat.
Secara ilmiah, refleks bersin adalah respons yang melibatkan banyak otot, mulai dari tenggorokan hingga dada. Tujuan utama kontraksi otot wajah, termasuk di sekitar alis dan mata, diduga adalah untuk melindungi mata. Penutupan mata saat bersin mencegah kotoran atau partikel iritan ikut terlempar masuk ke dalamnya.
Keterlibatan saraf alis dalam bersin juga dapat diamati pada orang yang menderita photic sneeze reflex (bersin karena cahaya terang). Meskipun pemicunya berbeda (cahaya vs. iritan), jalur refleks saraf yang dilalui di pusat otak tetap memiliki kesamaan. Ini memperkuat gagasan adanya jalur saraf yang saling tumpang tindih.
Fenomena refleks ini dikenal sebagai respons non-spesifik dari saraf wajah. Saraf trigeminal adalah salah satu saraf kranial terbesar dan bertugas untuk sebagian besar sensasi wajah. Oleh karena itu, stimulasi kuat di satu area (hidung) dapat secara tidak sengaja mengaktifkan otot di area lain (alis).
Singkatnya, gerakan alis saat bersin adalah manifestasi visual dari sebuah refleks neurologis yang rumit. Ini bukan suatu kebetulan, melainkan hasil dari jalur saraf yang terjalin. Memahami koneksi refleks tak terduga ini memberikan wawasan mendalam tentang pertahanan otomatis tubuh yang menakjubkan.
